Jumat, 26 Mei 2017

Menjalin Kerjasama dengan Anak

Menjalin Kerja Sama dengan Anak

Sebagai Ratu Rumah Tangga, kita tentu memiliki aturan-aturan tertentu yang ingin anak-anak  mematuhinya. Seperti yang saya alami, saya ingin: anak-anak makan dan minum sendiri dengan rapi atau membersihkan yang tumpah, mengusap ingus, bab dan bak di kamar mandi, memakai baju dalam, jangan membawa makanan ke tempat tidur, jangan membuang2 air kran,  tidak berteriak-teriak, atau jangan menumpahkan sabun cair ke bak mandi, dll
Untuk mewujudkan semua itu, kita perlu mengkomunikasikan dengan anggota keluarga kita. Tapi tanpa kita sadari, karena perasaan kita yang sudah terpancing emosi, kita seringkali melakukan kesalahan dalam mengkomunikasikan hal-hal tersebut dengan anak-anak.
1. Menyalahkan/Menuduh
"Ini siapa sih yang keluar ruang malan nggak nutup pintu? Pasti mas Fatih ya... lihat itu ikannya hilang pasti sudah diambil kucing"
2. Mengata-ngatai
"Masa sih habis pipis nggak mau cawik (bersuci). Jijik mas... "
"Masa sih ingus nggak mau dibersihkan. Hih. Jorok banget sihh "
3. Mengancam
"Awas ya, kalau air minumnya sampai tumpah lagi, Bunda suruh ngepel sendiri nanti kamu!"
4. Perintah
"Ayo Mas... cepetan mandinya...! Bunda buru-buru nihh "
"Lihat kacangnya tumpah. Ayo ambil!
5. Menceramahi
"Bunda sudah bilang berkali-kali, kalau pipis itu ke kamar mandi, celananya dicopot dulu. Pipisnya sambil jongkok, terus disiram... biar nggak pesing... ! Terus cawik, biar najisnya hilang...! Ngerti??!!"
6. Memperingatkan
"Awas jangan main pisau, nanti tangamu putus!"
"Jangan panjat jendela, jatuh kamu nant!"
7. Sok Berkorban
"Bunda capek banget! Semuanya gara-gara Mas Fatih hari ini main-main terus bikin rumah berantakan, bunda harus bersihkan semuanya!"
"Gara-gara gendong mas Fatih sekarang tangan bunda sakit sekali"
8. Membandingkan
"Mas Fatih bangun tidur mesti nangis. Lihat adik aja, bangun tidur nggak nangis!"
9. Sarkasme
"Ya ampun... masa air minum diludahin sih? Ayo lanjutkan. Habis itu kamu minum ya. Apa kamu mau minum air yang sudah diludahin?"
"Kamu ini kok selalu pukul-pukul adik? Mau bunda pukul juga? Biar tau rasanya dipukul"
10. Ramalan
Kalau kamu lihat TV terus, main HP terus, nanti kamu nggak bisa bikin pesawat"

Contoh-contoh tersebut adalah yang pernah kami alami di rumah. Hehee kalau dituliskan ternyata kasar sekali yaa....

Nah, ada beberapa poin yang mungkin terdengar lumrah, namun ternyata itu keliru. Coba posisikan diri kita di posisi anak yang mendapat pernyataan seperti itu. Bagaimana perasaan kita? Jangankan anak-anak, kita saja sebagai orang dewasa pasti tidak suka dengan pernyataan itu. Kita tentu tidak ingin anak-anak kita tumbuh dengan perasaan membenci kita bukan?

Maka berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak-anak bisa bekerjasama dengan kita.

1. Jabarkan. Jabarkan apa yang dilihat, atau jabarkan masalahnya.
2. Berikan informasi.
3. Ucapkan kata kunci.
4. Ungakapkan yang Anda rasakan. Anak perlu tahu perasaan kita.
5. Sampaikan pesan dalam tulisan.

Maka percakapan yang saya alami bersama Fatih (3y) menjadi seperti berikut
"Kalau sudah selesai, handuknya digantung di sana ya"
"Kalau sudah penuh, matikan airnya yaa"
"Waduh, kacangnya tumpah. Ayuk, kita ambil satu-satu"
"Waduh, airnya tumpah. Ayuk ambil kain pel"
"Handuk basah kalau diletakkan di atas kasur, nanti kasurnya jadi basah juga"
"Buang-buang air itu mubadzir..."
"Airnya penuh, Le"
"Bunda malu kalau Bunda sedang tidur, pintu kamar dibuka"
"Bunda nggak suka kalau ada yang bermain-main kayu di dalam rumah, apalagi sampai kena bunda atau ngerusak-ngerusak...
"Air minum yang sudah diludahi itu banyak kumannya"
"Bunda sedang buru-buru. Kalau mas Fatih masih mau main, Bunda tunggu 5 menit lagi ya... "
"Main air boleh, asal tidak di buang-buang"
"Marah boleh, tapi tidak boleh pukul"

Di rumah, saya memiliki tmpat sholat khusus yang "bebas ompol". Siapapun yang masuk, harus menyucikan diri mereka, tanpa kecuali anak-anak. Tapi hingga mulut ini berbusa-busa, sepertinya penjelasan masih belum bisa membuatnya mematuhi aturan. Maka saya membuat tulisan yang saya tempel di pintu depan setinggi kepala Fatih: "cuci kaki dulu ya... "
Memang Fatih belum bisa membaca, hingga suatu ketika saat dia hendak memasuki tempat sholat, saya menghentikan langkahnya.
Bunda : Stop!
Fatih : (berhenti melangkah)
Bunda : sebentar Mas. Lihat ini! (Menunjuk tulisan) "CUCI KAKI DULU" Mas Fatih kalau masuk tempat sholat harus cuci kaki dulu ya...
Fatih : jadi karena ada tulisan ini Fatih cuci kaki dulu ya Nda?
Bunda : iya (saya kira Fatih akan melepas tulisan itu, lalu masuk tanpa cuci kaki)
Fatih : (melangkah ke kamar mandi untuk cuci kaki)
Saya tidak menyangka bahwa dia ternyata berusaha mematuhi aturan tersebut. Saat dia malas cuci kaki, bahkan dia hanya menunggu dan bermain di luar, atau meminta saya untuk mencucikan kakinya.

Saya tidak menjanjikan cara ini pasti berhasil, karena tujuan kita sebenarnya bukan untuk mengatur atau mengendalikan anak, tapi untuk memperlakukan anak-anak secara lebih manusiawi dan untuk memunculkan inisiatif mereka.

Faktor lain yang berpengaruh dalam menjalin kerja sama dengan anak adalah mood mereka. Saat mood mereka baik, tentu lebih mudah untuk menjalin kerjasama dibanding saat mereka sedang bad mood.

Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar Agar Anak Mau Berbicara. Adele Faber dan Elanie Mazlish. Lentera Pustaka.2002.

Jumat, 19 Mei 2017

Membantu Anak Mengatasi Perasaannya

Membantu Anak Mengatasi Perasaannya

Saya biasa memberikan jawaban sebaik mungkin saat anak-anak mengeluhkan suatu permasalahn, biasanya dengan mencoba menawarkan solusi.

Misalnya pada situasi berikut:
Fatih (saya perkirakan usianya saat itu masih menjelang 3 tahun) sedih dan marah karena sari kedelai yang dijual di pedsagang sayur yang tinggal satu, dibeli oleh saskia. Di sela isak tangisnya, saya mencoba menghiburnya dengan membuatkan sendiri sari kedelai yang banyak untuknya. Fatih menolak.
Dalam situasi lain, saat Fatih sangat menginginkan untuk meminjam HP ayahnya yang sedang digunakan untuk bekerja, saya mencoba menawarkan HP saya. Fatih pun menolak, dan tetap bersikeras.
Saya tahu bahwa dia ingin makan es krim atau susu, tapi pada kondisi tertentu, karena alergi yang dimilikinya, saya melarang. Tentu dia rewel.

Suatu hal yang lumrah, anak-anak berusaha menceritakan kegalauan hatinya pada situasi:
1. Sangat marah karena berebut mainan
2. Sangat marah dengan seseorang
3. Merasa benar atas segala sesuatu
4. Sangat menginginkan sesuatu
5. Ingin mengendalikan sesuatu
6. Bersedih karena suatu hal
7. Dll,

Sebagai seorang ibu yang menyayangu anak, saya rasa pun bukan hanya saya yang mencoba membantu mereka dengan menawarkan solusi atas permasalah mereka tersebut.

Belakangan, saya mengetahui bahwa berkomunikasi dengan anak ternyata memerlukan keahlian khusus. Dan ternyata anak-anak lebih cerdas dari yang kita sangka, bahwa mereka bisa menemukan solusi atas permasalah mereka.

Masalah anak-anak memang bisa jadi sesuatu yang sederhana bagi kita, tapi bagi mereka bisa jadi sangat serius.

Sebaiknya kita tidak menyepelekan hal ini, salah-salah malah anak-anak menganggap kita adalah orang tua yang menyebalkan.

Maka berikut adalah beberapa keahlian yang perlu kita latih untuk membantu anak mengatasi perasaan mereka:
1. Tunjukkan perhatian penuh
2. Berikan respon singkat seperti, "Oh..." atau "Hmm..."
3. Beri nama perasaan itu
4. Berikan keinginan anak dalam imajinasinya

Saat mencoba keahlian ini, ingat bahwa tujuan kita adalah tidak berusaha untuk mengendalikan anak-anak atau memanipulasi perilaku anak-anak, tapi tujuan kita adalah untuk mencoba menghargai anak-anak sebagai manusia muda yang juga memiliki otak yang berproses.
Pada anak balita, menguasai keahlian ini insyaAllah bisa meminimalisir tatrum pada balita.

Situasi yang saya ceritakan di atas, tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, namun berkali-kali. Bahkan hingga sekarang pun saat usianya sudah mencapai 3,5 tahun, situasi tersebut masih sering terulang. Hanya saja, setelah mencoba keahlian tersebut, maka yang terjadi pun berbeda.

Saat Fatih menginginkan HP ayah, sementara HP ayah sedang dipakai untuk bekerja. Saya mencoba memberikan perhatian penuh dengan menghentikan aktivitas lalu mendekatinya dan memposisikan diri sejajar dengan Fatih.
Fatih :(menangis sambil berteriak tidak jelas) Fatih mau pinjam HP ayah, Ndaaa... hua hua huaa...
Bunda : iya, Bunda mengerti Fatih pengen pinjam HP ayah, tapi tidak boleh karena masih dipakai kerja. Jadinya Mas Fatih sedih dan marah... (pada beberapa anak, respon singkat seperti "oh...", "hmm..." dan "iya... " cukup membuat anak mengerti, bahwa yang mendengar sudah menerima apa yang dimaksudkan, tapi untuk Fatih, menurut kebiasaan dia akan terus mengulangi apa yang dia keluhkan hingga saya mengulangi kalimatnya untuk membuatnya mengeri bahwa saya menangkap maksudnya)
Fatih : huaa... hua... hua... ayah nggak boleh kerja, Nda...
Bunda : iya,bunda mengerti, Mas Fatih pengen pinjam HP ayah tapi nggak boleh, jadinya Mas Fatih marah dan sedih (saya memberi nama perasaannya: marah dan sedih)
Fatih : hua ... hua... hua...
Bunda : (diam mendengarkan)
Fatih : (Beberapa saat kemudian, isaknya sudah mulai jarang, lalu mulai berkata) Ayah mana, Nda? Fatih mau ikut ayah saja ahh... (sudah menemukan solusi)
Di lain kesempatan, saat Fatih merengek hendak pinjam HP ayahnya lagi, di akhir dialog dia bertanya, "Kalau HP bunda dimana?"
D lain kesempatan, bahkan dia mencoba memberikan hal (mainan) yang menurutnya bisa membuat ayahnya tertarik sehingga meletakkan HPnya dan memilih mainan #hahaha

Saat Fatih sedang ingin makan es krim, tapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan karena kurang sehat, diare atau flu
Fatih : Fatih mau es krim Nda,
Bunda : Hmm... enak ya kalau bisa makan es krim (saya mencoba memberikan apa yang dia inginkan dalam imajinasinya)
Fatih : Sedaaappp...
Bunda : Tapi mas Fatih kan masih batuk... (sebagai pengganti dari perkataan "Tidak boleh, kamu kan batuk")
Fatih : (diam)
Bunda : (diam)
Fatih : nanti kalau sudah nggak batuk boleh makan es krim ya Nda... (sambil tersenyum. Fatih sudah menemukan solusinya...)
Bunda : boleh boleh boleh... (menjawab dengan riang)

Suatu ketika saya sedang terburu2 hendak membeli sayuran. Saya sengaja tidak mengajak Fatih yang saat itu sedang melihat TV. Saya menyelinap dari belakang dan mencari jalan lain yang memungkinkan Fatih tidak melihat saya keluar. Karena jika Fatih tau saya belanja tanpa mengajaknya dia pasti akan marah. Sepulangnya, saya menemukan Fatih sudah menangis di depan rumah. Wahh, ini... jika biasanya saya sedikit terpancing emosi dan mengalihakan dengan hal lain sehingga membuat Fatih jadi tatrum, maka saat itu saya memilih untuk tenang, meletakkan sayur ke kulkas dulu lalu mendatangi Fatih.
Fatih : sayurnya dibuang ajaaa... hua hua huaa...
Bunda : Mas Fatih marah karena nggak diajak sama Bunda beli sayuran
Fatih : huaaa huaaa huaaaaa sayurnya dibuang aja (tambah kenceng)
Bunda : iya, bunda ngerti, Mas Fatih marah, jadi pengen sayurnya dibuang aja...
Fatih : [mulai surut volume tangisannya]
Bunda : Bunda ngerti mas Fatih pengen ikut Bunda ke Cak Awi, Mas Fatih pengen beli jajan, tapi Bunda nggak ajak Mas Fatih... jadi Mas Fatih marah...
Fatih : (diam, lalu tampak memperhatikan hal lain)
Bunda : Mas Fatih tadi lagi lihat apa? Yuk kita lihat sama-sama ...
Fatih : ayuukkk.... (sudah ceria lagi)

Saat anak curhat, pun respon saya juga jadi lain. Jika biasanya saya merespon dengan pertanyaan atau solusi. Kini saya hanya merespon dengan mengulangi ceritanya, dan ceritanya akan mengalir alami.

Pada anak lain mungkin tidak suka dengan pengulangan ini, yang terdengar seperti burung beo. Sehingga pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari bisa bervariasi, tergantung pada karakter ibu dan anak.

Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar Agar Anak Mau Berbicara. Adele Faber dan Elanie Mazlish. Lentera Pustaka.2002.

Minggu, 26 Februari 2017

Fatih Bisa Pasang Baterai Mainan

Biasanya masih sering terbalik meskipun sudah diberi tau, hari ini sudah bisa pasang sendiri berkali-kali betul.

Selasa, 21 Februari 2017

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

*Institut Ibu Profesional*
_Materi Bunda Sayang Sesi #2_

*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
🔟Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_

Senin, 20 Februari 2017

KEJAR AYAH

Pagi itu, ayah buru2 berangkat ke kantor dan tidak berpamitan dengan Fatih. Alasanya biasanya Fatih suka merengek ikut kalau dipamiti.

Tidak disangka, Fatih yang mendengar suara motor ayah saat ayah berangkat kerja berlari keluar rumah sambil menangis berteriak hendak ikut. Bunda mencoba menenangkan. Tapi Fatih bersikeras mau mengejar ayah.
Bunda turuti saja kemauannya. Saat itu masih pagi dan memang sejak tadi malam bunda berniat mengajak Fatih jalan-jalan naik gunung.

Jarak dari rumah ke kantor sekitar 1km naik-turun bukit. Sebelumnya, kami pernah mengejar ayah ke kantor Kendeng Lembu hingga di puncak bukit seorang karyawan lewat hingga Fatih saya ikutkan menumpang di sepeda motornya. Kali ini saya turuti saja kemauannya jalan kaki dengan pemikiran bahwa kalau sudah capek Fatih mau turun kembali pulang sendiri. Sedangkan saya sambil menggendong Sofia.

Di luar dugaan saya, ternyata Fatih masih kuat berjalan naik hingga turun bukit sekitar 1km. Saya bujuk pulang menolak, pokoknya hingga ketemu sama ayah.

Saya menyerah. Hingga kami tiba di pos 6. Kami istirahat duduk dulu. Tidak sampai 10 menit ayah lewat dan terkejut melihat kami disini. Setengah tidak percaya kami telah berjalan kaki.

Ya Fatih... sekarang bunda tau mengapa kamu dipasangkan dengan Bunda. :)

Rabu, 15 Februari 2017

Hidup Berani

Hidup harus berani. Menikahi yang dicintai atau mencintai yang dinikahi. Jangan sampai, kaki melangkah sementara mulut mencela dan hati mengingkari.

Minggu, 29 Januari 2017

SOFIA BULAN KE-16

Bulan ke-16
Pada kesempatan ini saya sekalian merapel portofolio Sofia.

0 bulan sudah bisa membuat suara selain tangisan
2 bulan sudah mulai bisa diajak tersenyum
3 bulan sudah kenal dengan bunda. Menolak digendong selain ayah dan bunda
4 bulan menunjukkan tanda-tanda minta disuapi, dengan membuka mulut saat didekatkan makanan ke mulut selain itu juga sudah mulai mengambil makanan dan memasukkan makanan ke mulut. Tetapi saya belum memberinya mpasi.
5 bulan mulai tengkurap
6 bulan makan nasi lunak (tidak mau makan bubur)
7 bulan belajar telentang setelah tengkurap
8 bulan mulai hendak merangkak
9 bulan bisa merangkak
11 bulan tumbuh gigi
I12 bulan belajar jalan
>12 bulan
Yang terlihat dominan adalah perkembangan motoriknya.

Suka meniru bunda.
Peka dengan nada. Menari saat mendengar irama tertentu.
Peka dengan perubahan raut muka, tekanan suara saat orang bicara.
Menunjukkan keinginan dengan rengekan, menolak yang tidak disukai.
Mencoba makanan sebelum akhirnya menolak atau menerima.

Kalau diringkas, maka sifat uniknya adalah:
Suka musik, suka gerak badan, suka bicara, suka menangis, ekspresif, suka mencoba makanan baru.
Akrab dengan orang yang sudah benar-benar dikenal, kecuali anak kecil.

FATIH BULAN KE-38

Hari ini di grup HEbAT ada Festifal Portofolio Anak (FPA). Dimana anggota ditantang untuk membuat portofolio anak dan dipost di grup pada tanggal 30 Januari 2017.

Kebetulan hari ini Fatih tepat berusia 38 bulan. Jadi sekalian bikin portofolio untuk diikutkan di FPA HEbAT.

Lingkungan kami akrab dengan berbagai macam alat berat: excavator, grabber, buldoser, traktor besar, crane, molen dan beberapa alat berat lain yang saya sendiri belum tau pasti namanya apa. Hal ini sangat berpengaruh pada Fatih.

Fatih sudah jeli dan bisa menyebutkan nama alat-alat itu jika ditunjukkan gambarnya atau melihat wujud aslinya.

Imajinasinya pun berkembang dengan  menjadikan alat-alat rumah tangga, lego, jepit jemuran, mainan rusak, dan apa saja lalu dirangkai seolah-olah mereka adalah excavator atau grabber, dua alat berat favoritnya. Ini terjadi setiap hari dan nyaris setiap waktu.

Setelah dibelikan mainan excavator dia lebih sering memainkan excavatornya dengan dump truk di pasir.

Pernah juga dia sendiri yang berperan menjadi grabber atau excavator. Lalu menjadikan saya sebagai pabrik gula dan ayahnya yang jadi tebu. Seringkali pula saya melihat dia sendiri yang berperan sebagi grabber yang sedang memindahkan kayu.

Sifat unik lain yang saya temukan pada Fatih adalah dia peka terhadap ekspresi wajah. Ini pertama kali saya temukan pada saat di rumah uti di sumber jeruk, kalisat, jember. Uti memelihara banyak kucing di rumah. Suatu ketika Fatih tampak mengamati seekor kucing. Lalu berkata pada saya,
"Kucingnya gini ya, Nda..." sambil berekspresi menirukan ekspresi kucing.
"Kucingnya gimana, Le?" Saya bertanya lagi untuk meyakinkan bahwa dia sedang menirukan ekspresi kucing.

Lalu dia pun mencoba menirukan lagi. Masya Allah, saya sebenarnya ingin tertawa melihatnya, namun saya tahan. Saya yakin bahwa ini adalah sifat uniknya yang harus saya catat juga.
Pada kesempatan lain, dia juga menirukan dan menceritakan ekspresi wajah-wajah yang dia lihat di buku cerita yang saya bacakan.

Fatih juga peka dengan aroma. Seringkali dia berlari dari dalam rumah saat saya memasak di dapur lalu berkata "Fatih mau... mau....!" Karena mencium aroma masakan. Pernah ada bau gosong entah dari mana, lalu dia bertanya, "Bau apa ini Nda? Kok kaya gini? Kaya jagung bakar. Hmm..."

Setelah hujan reda biasanya kotoran sapi dari kandang yang berjarak 300 meter juga tercium dari rumah. Fatih biasanya berkomentar kalau itu bau kambing.

Dia juga suka berkomentar setelah mencium adiknya,"Adik harum" atau "Adik bau kecut"

Jika mendengar bunyi-bunyian dia selalu mencoba menebak-nebak bunyi apa itu. Bunyi air, angin, petir, suara orang yang kalau kenal disebut namanya, kalau dia tidak kenal dia tanyakan siapa atau dia sebut saja dengan "suara orang".

Sifat unik lain, suka bermain dengan anak-anak sebaya atau lebih besar. Sering mengajak mereka bermain bersama di rumah.

Suka aktivitas fisik: naik sepeda, berlari-lari di tempat yang luas atau lorong-lorong. Suka bermain air dan pasir.

Fatih juga sepertinya tangannya itu susah diam. Seperti "gatal" selalu ingin ngutak atik apa saja. Kalau habis kesabaran, saya yang jadi sasaran praktik: muka saya diremas, dicubit, dibentuk-bentuk.  Waduh... saya pernah menyalurkanya pada permainan play dough eh, nggak taunya malah adonan play dough dimakan.
Selain itu saya sering menyediakan buku khusus untuk coret2, atau kertas untuk digunting. Saya juga masih mencari bagaimana menyalurkan tangannya yang kelebihan energi ini.

Dia suka membantu saya memasak, bahkan sudah pandai memotong tempe dengan ukuran potongan yang sama. Dia juga sering menggunakan peralatan memasak saya untuk berpura-pura memasak. Bahan masakannya adalah lego dan mainan-mainan lainnya. Sering pula dia menggunakan lego atau mainan lain untu membuatkan saya sepotong kue yang cantik. Saya pun berpura-pura menikmatinya.

Kalau diringkas, maka sifat uniknya adalah: suka objek besar, suka mekanik, suka berpura-pura atau memainkan peran, peka terhadap aroma dan suara, suka memasak, suka berteman dan suka aktivitas fisik.

Jumat, 20 Januari 2017

Latihan #2 Mengajak tanpa Menuduh

Setiap kali mengeluhkan perilaku anak-anak, setiap kali pula ingat cerita-cerita orang tua lain tentang anaknya dan perilaku-perilaku masing-masing.

Mendidik anak adalah suatu tugas hingga waktu mereka mencapai aqil baligh yaitu sekitar usia 12 - 15 tahun. Kalau kita melakukan tindakan yang benar, InsyaAllah pada saat anak mencapai usia tersebut, kita sudah tidak perlu lagi direpotkan oleh anak-anak kita.

Bagaimanapun juga, sebagai orang tua yang terus belajar dan berproses untuk menjadi lebih baik, saya masih jatuh bangun dalam mengelola emosi. Berbuat salah lalu berusaha memperbaikinya, dan berusaha agar tidak melakukan kesalahan yang sama, adalah siklus sehari-hari. Bagaimanapun juga, doa adalah satu hal yang tidak pernah boleh ditinggalkan.

Siang ini, Fatih (3y) menumpahkan kacang dari tempatnya saat mencoba membuka kemasannya. Saya tau bahwa sebenarnya dia takut saya marah, dari tingkah lakunya seperti sudah siap hendak dimarahi.

Saat itu, saya memutuskan untuk tidak marah. Saya mengambil jeda sejenak, tarik nafas dulu. Lalu berkata
"Waduh, kacangnya jatuh... ayuk kita ambil satu persatu...." saya mulai memungut. Sofia (15m) turut membantu memungut lalu memasukkan satu ke mulutnya, dan memberikan yang satunya ke saya. Saya pun memujinya,
"Wahh... adik pintar ya, bantu Bunda ambil kacang. Makasih ya dek... "
"Kalau Fatih nulis-nulis Nda..." memang saat itu Fatih memilih untuk mencoret kertas yang dia temukan di lemari. Bunda diam saja. Fatih mengulangi lagi kata-katanya, tapi Bunda tetap diam. Lalu Fatih turun, sambil berkata, "Fatih mau bantu ambil kacang juga ahh..."
"Alhamdulillah... wah, Mas Fatih mau bantu bunda ambil kacang juga, wah... terimakasih ya nakk" kami pun memungutinya bersama.

Biasanya, setiap kesalahan yang dia lakukan, saya selalu menyuruhnya untuk bertanggungjawab. Seperti mengelap yang tumpah, membuang ke tempat sampah, mengembalikan mainan, dll.
Kalimat yang saya gunakan biasanya berupa kalimat perintah.
Seringkali dia menolak dan berakhir dengan saya sendiri yang mempertanggungjawabkan perbuatannya. Belakangan saya mengerti bahwa ternyata ada cara berkomunikasi saya yang harus saya perbaiki.
Anak-anak tidak suka diperintah, atau dituduh seperti kata-kata, "kamu yang menumpahkan " maka saya mencoba mengganti "wah, kacangnya tumpah, ayo kita pungut"
Referensi:
Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar Agar Anak Mau Berbicara. Adele Faber & Elaine Mazlish.

Minggu, 15 Januari 2017

Saat Fatih Menolak Mencuci Rambut

Fatih (37m) tidak suka kalau rambutnya dicuci. Kalau ditawari selalu menolak, kalau dicuci diam2 dengan meletakkan shampo di kepala tanpa sepengetahuannya saat mandi, dia marah2 berontak.

Padahal dua hari tidak keramas saja baunya sudah menyengat. Maklum, Fatih suka aktivitas fisik dan main pasir yang kadang dihambur-hamburkan ke kepalanya. Dan seringkali hingga hampir satu minggu Fatih belum jeramas. Sehingga dari jarak dua meter sudah tercium baunya.

Bunda putar otak mencoba beberapa cara:
1. Memberi tahu bahwa rambut yang tidak dicuci maka kuman pun berkumpul disana dan jadi sarang penyakit, maka Fatih menjawab : tidak mau keramas dan tidak mau rambutnya jadi sarang penyakit

2. Merayu keramas, tapi dia tidak mau diguyur dengan gayung, tapi dengan tangan, seperti saat bunda mencuci kepala adiknya (15m). Sudah dilakukan bunda, yang terjadi adalah karena air dari guyuran tangan hanya sedikit, maka malah masuk ke matanya dan dia malah trauma tidak mau keramas lagi.

3. Memberikan pilihan: mau keramas atau rambutnya digundul seperti ipin agar tidak menjadi sarang kuman. Awalnya Fatih memilih untuk memotong rambutnya, di tengah memotong rambut, Fatih mungkin merasa tidak nyaman dengan rambut2 yang jatuh mengenai bahunya sehingga terasa gatal, maka Fatih pun minta keramas saja, saat itu Fatih minta nyiramnya pake tangan saja. Saya turuti. Beberapa hari kemudian saya menawari pilihan itu lagi, dan dia memilih keramas saja. Saya tawari dengan gayung, dia tidak menolak. Asalkan dengan air hangat. Alhamdulillah...

Jumat, 13 Januari 2017

Latihan #1 Saat Bunda Belajar Empati

Hari ini Fatih menangis lagi. Masalahnya Fatih ingin meminjam HP ayahnya. Namun ayahnya tidak mengizinkan karena hp hendak digunakan untuk kepentingan kerja. Fatih pun menangis penuh amarah. Ayahnya tetap tidak peduli.

Saya pun mencoba mengajaknya berbicara

Bunda: mas Fatih, marah ya, soalnya mas fatih mau pinjam HP ayah tapi nggak boleh...

Fatih: (masih menangis)

Bunda: iya mas...? Mas Fatih pengen pinjam HP ayah tapi nggak boleh ya? Terus mas Fatih marah ya...

Fatih: (diam)

Bunda: hmmm ... (perhatian penuh siap mendengarkan jawaban dari Fatih)

Fatih: (tiba-tiba tertawa lalu lari keliar ambil perahu mainan dan dimainkan di dekat ayahnya, seperti berharap agar ayah tertarik dengan mainan Fatih, lalu menyerahkan HPnya ke Fatih)

Bunda: (tertawa)

Ayah: (ikut tertawa) owalah leee... leeee... nih, kalau mau pinjam HP ayahh... hahhaha

(Tertawa bersama)

Penting untuk bisa menerima perasaan anak tanpa mengalihkan kepada hal lain, tanpa menggurui solusi atas permasalahannya karena anak-anak pun memiliki kemampuan menganalisis suatu permasalahan dan mencoba menemukan solusi.

Referensi:
Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar Agar Anak Mau Berbicara. Adele Faber & Elaine Mazlish.

Kamis, 12 Januari 2017

Wahai anakku

Waktu akan berlalu dengan cepat.
Kau akan tumbuh mandiri dan dewasa,
Tidak lagi merengek, menggigit, menendang, meludahi bunda dan berbagai kenakalan2x anak kecil yang seringkali membuat bunda gemas...
Kau akan tumbuh dewasa dan tidak lagi memerlukan bantuan bunda untuk sekedar mengambilkan barang, cebok, minum, makan, dan minta gendong...
Ah, tiba2 saja bunda merasa kau sudah besar...
Bunda akan merindukan itu semua...
Cepatlah bangun nak, bunda rindu kamu menangis...
Doakan ya nak... agar bunda bisa tetap bersabar membersamaimu tumbuh dan berkembang,
Doakan ya nak, agar kita bisa berkumpul bersama di surga kelak... kamu, adek, bunda dan ayah... amiin...

Jumat, 06 Januari 2017

Saat Fatih Trauma Makan

Sudah dua hari ini mulut Fatih nyaris tidak tersentuh nasi. Fatih selalu menolak saat ditawari untuk makan nasi. Dia hanya mau makan sayur atau lauknya saja. Dia hanya mau menerima nasi saat malam menjelang tidur. Barangkali karena kelaparan sehingga tidak bisa tidur. Namun kuantitas yang masuk pun hanya sedikit, dua atau tiga sendok saja.

Untuk memenuhi asupan nutrisi, saya pun mencoba mengolah bahan makanan lain yang kira-kira akan diterima Fatih: ubi jalar, sari kedelai, kacang hijau, kue-kue dll. Saya pun memasak menu yang biasanya disukai Fatih: ayam goreng, dadar jagung, rawon, dll.

Saya pun merenung mencoba menelusuri penyebab Fatih menolak makan nasi.

Belakangan saya menyadari bahwa beberapa hari sebelumnya saya melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada Fatih. Saya memaksanya makan nasi. Ya rupanya itulah sebabnya akhirnya dia membenci nasi. Astaghfirullah... rupanya dia trauma....
Akankah begini seterusnya?
Astaghfirullah...

Saya pun memperbaiki cara saya dalam memberi asupan nutrisi.

Saya tidak lagi memaksa Fatih untuk makan nasi, tapi dia boleh makan apa saja, kecuali yang tidak boleh.

Membuat suasan makan menyenangkan. Saya lakukan dengan nonton TV. Biasanya saya larang. Kali ini saja.

Memasak menu yang dia sukai: sayur bayam, ayam krispy, usus krispy, ayam panggang bagian yang banyak tulangnya, rawon, dll. Yang penting dia seneng makan dulu. Selain itu saya juga rajin membuat sari kedelai buat jaga2 pas Fatih betul2x tidak ingin makan, maka minum sari kedelai bisa membuat kenyang, sehingga Fatih tidak rewel dan tetap ceria bermain.

Menahan marah-marah. Ini yang berat, pokoknya harus tahan... tahan... agar tidak meluap.

Berdoa... siapa yang bisa menjadikan segala sesuatu kalau bukan Allah? Maka jadikan doa sebagai salah satu ikhtiar wajib.

Alhamdulillah dalam beberapa hari, selera makan Fatih sudah kembali lagi...

Kamis, 22 Desember 2016

APA YANG PERLU DILAKUKAN DI KEBUN BARU

Tulisan ini saya buat sebagai persiapan mutasi suami yang tinggal menunggu SK. Hehee, maklum, kami sudah 4 tahun disini, sudah waktunya.

Apa yang perlu saya lakukan di kebun yang baru nanti ya... tentu saja terkait IIK
1. Mendata anggota
2. Cek kelengkapan buku
3. Reformasi pengurus
4. Cek afdeling: cek pagar hidup (perlukah di rombak)
5. Cek toga kolektif, karang kitri kolektif

Nah, itu tadi hal yang perlu dilakukan di kebun yang baru ya...
Semoga tetep bisa menebar kebaikan di manapun bumi dipijak. Amiin...

Minggu, 30 Oktober 2016

Tazkiyatun Nafs dalam Pengasuhan Anak

Ingatan saya tentang bagaimana "model marah" orang tua saya pada masa kecil saya sedikit. Ibu saya meninggal saat saya naik ke kelas 5 SD, usia saya saat itu sekitar 11 tahun, saya pun jarang ikut ibu saya. Saya lebih sering bersama ayah saya. Karena sebelum meninggal ibu sudah sering menjalani terapi pengobatan. Dan sepanjang ingatan saya, beliau tidak pernah memarahi saya.

Ayah saya... seingat saya ayah saya jarang memarahi saya, tapi beliau pernah menjewer saya sekali, pernah menyiram saya sekali.

Bagaimana model marah saya pada anak-anak?
Dulu sebelum saya mengetahui ilmu parenting, saat marah saya nyaris kejam terhadap anak-anak. Tangan dan mulut bersahutan. Model marah ini entah karena terinspirasi lingkungan, entah karena model pengasuhan orang tua, atau entah karena saya sendiri... astaghfirullah...

Iseng-iseng saya tanya kakak saya, bagaimana model marah ayah dan ibu. Ternyata kata kakak saya, mereka pun pernah mengomel, mencubit juga memukul.

Pelan saya menggumam, oh... pantas...
Baiklah saya tidak bermaksud menyalahkan, saya memahami betul perjuangan berat yang dilakukan oleh ayah dan ibu kami dalam membesarkan dan mendidik kami semua. Saya pun pernah merasakan (yang saya mengerti kalau namanya) HS maupun HE yang dijalankan oleh orang tua saya terutama terkait ilmu agama. Hanya saja ternyata perasaan yang terlibat dalam suatu peristiwa tertanam kuat dalam benak seorang anak dan terus berkesan hingga dewasa. Tentang marahnya orang tua, tentu akan kita pahami sendiri setelah kita menjadi orang tua.

Kini sebagai individu dewasa yang dikaruniai akal yang sempurna, kita sudah bertanggung jawab dengan keputusan kita. Maka kemarahan kita pun kelak akan diminta pertanggungjawaban sendiri.

Dari grup HEbAT yang saya ikuti, saya mendapat pencerahan tentang penyucian jiwa, atau Tazkiyatun Nafs dalam mengasuh anak.

Berikut saya mengutip langsung penjelasan Ust. Harry Santosa:

Tazkiyatun Nafs adalah bahasa alQuran untuk mentherapy secara alamiah dan fitriyah apa apa yang menyebabkan kita berperilaku buruk. Tiada cara yang baik dan mengakar kecuali memperbaiki jiwa sebelum memperbaiki fikiran dan amal.

Belum pernah ada surat di dalam alQuran dimana Allah bersumpah begitu banyak, sampai 11 kali, kecuali untuk pensucian jiwa "sungguh beruntung mereka yang mensucikan jiwanya" (surat asSyams).

Warisan pengasuhan masa lalu dalam dunia psikolog sering disebut Inner Child, kadang sehebat apapun ilmu parenting atau psikologi yang kita pahami, tetap saja di tataran praktis yang kita pakai adalah apa yang pernah kita alami ketika kecil. Misalnya, kita tahu membentak dan menjewer itu buruk, namun ketika kekesalan memuncak maka hilang semua pemahaman, yang ada lagi lagi membentak dan menjewer.
Ada terapinya untuk ini, namun sebaiknya kita menggunakan jalur alamiah dan syar'i yaitu Tazkiyatunnafs, atau pensucian jiwa.
Ini perlu waktu, perlu momen, perlu keberanian utk keluar dari zona nyaman dan instan.
AlQuran juga mengingatkan bahwa sebelum ta'lim maka penting untuk tazkiyah lebih dulu. Dalam prakteknya paralel saja, karena begitu kita berniat sungguh2 mendidk anak sesuai fitrahnya maka sesungguhnya kita sedang tanpa sadar mengembalikan fitrah kita atau sedang tazkiyatunnafs

Dalam buku tarbiyah Ruhiyah, pensucian jiwa itu bisa dilakukan dengan 5 M

1. Mu'ahadah -mengingat ingat kembali perjanjian kita kepada Allah. Baik syahadah, maksud penciptaan, misi pernikahan, doa doa ketika ingin dikaruniai anak, menyadari potensi2 fitrah dstnya

2. Muroqobah - mendekat kepada Allah agar diberikan qoulan sadida, yaitu ucapan dan tutur yang indah berkesan mendalam, idea dan gagasan yang bernas dalam mendidik, sikap dan tindakan yang pantas diteladani.  Allahlah pada hakekatnya Murobby anak anak kita, karena Allahlah yang memahami fitrah anak anak kita. Maka kedekatan dengan Allah adalah agar hikmah hikmah mendidik langsung diberikan Allah untuk anak anak kita melalui diri kita.

3. Muhasabah - mengevaluasi terus menerus agar semakin sempurna dan sejalan dengan fitrah dan kitabullah, bukan obsesi nafsu dan orientasi materialisme

4. Mu'aqobah - menghukum diri jika tidak konsisten dengan hukuman yang membuat semakin bersemangat dan semakin konsisten untuk tidak melalaikan amanah

5. Mujahadah - sungguh sungguh menempuh jalan sukses (fitrah) dengan konsisten, membuat perencanaan dan ukuran2 nya

Nah, langkah tadi sebaiknya benar-benar dipraktikkan ya. Tentu diawali dengan niat bersungguh-sungguh.
Bismillah...

Sumber bacaan:
Ust. Harry Santosa dalam diskusi santai Bekasi Raya HEbAT 26 Okt. 2016

Sumber gambar:
http://almanar.co.id/wp-content/uploads/2013/12/Mengapa-Kita-Harus-Mensucikan-Jiwa-Tazkiyatun-Nafs-300x184.jpg

Selasa, 18 Oktober 2016

MERACIK TEPUNG BUMBU

Suami saya penyuka menu-menu yang bertepung bumbu seperti ayam crispy, usus crispy, wader crispy, jamur crispy, kembang kol dan terong goreng tepung, bahkan telur dadar dan dadar jagung juga menggunakan tepung bumbu.

Tingginya konsumsi tepung bumbu, maka saya mencoba untuk meracik sendiri tepung bumbu yang insyaAllah lebih minim zat aditif dan ramah kantong belanja. Rasanya pun tidak kalah enak.

Biasanya saya meracik untuk keperluan sebulan. Sehingga saat dibutuhkan hanya tinggal ambil sesuai kebutuhan.

Selain menu goreng-gorengan, saya juga biasa menggunakan tepung racikan ini untuk membuat cilok dengan tambahan tepung kanji 1:1.

Berikut resepnya:

1 kg terigu protein rendah atau protein sedang
3 sdm tepung maizena
2 sch kaldu bubuk rasa sapi
2 sdt garam halus
1 sdt merica bubuk

Cara membuat:
Aduk rata semua bahan.
Simpan dalan wadah tertutup rapat.
Tepung bumbu racikan siap digunakan sesuai kebutuhan.
Selamat mencoba :)

Selasa, 11 Oktober 2016

Saat Bu Karmi Sakit

Sudah tiga hari Bu Karmi, pembantu di rumah kami, tidak masuk kerja. Hipertensinya kambuh. Orang yang biasa menggantikan Bu Karmi juga sedang sakit. Dia masih dalam proses penyembuhan dari DBD.

Jadilah saya ibu rumah tangga yang sebenarnya: mengurus sendiri segala kebutuhan rumah tangga. Butuh waktu, tenaga dan pikiran untuk menjalankan itu semua. Ditambah lagi ada dua batita dan ayah Fatih yang sedang naik asam lambung dan kambuh vertigo nya. Masya Allah... perjuangan betul.

Tengah malam saya mencuci baju dan aktivitas dapur untuk cuci piring dan persiapan menu keesokan harinya sehingga pagi sudah tinggal jemur dan memasak. Siang saya bisa bermain bersama anak-anak. Namun tidak bisa full dengan anak-anak juga, karena ada saja pekerjaan yang dikerjakan.

Melihat Bunda sibuk, Fatih juga jadi rewel. Hahaha...
Pokoknya super dehh....!

AYAT-AYAT CINTA 2

Hingga saat ini saya belum pernah membaca novel tebal secara detail kalau bukan karya Habiburrahman atau Andrea Hirata. Kedua penulis itu, meskipun berbeda genre, memiliki daya pikat sendiri pada karyanya. Paragraf-paragrafnya mengandung unsur yang menurut saya sarat ilmu atau mengandung unsur emosi dan sayang sekali jika dilewatkan.

Kali ini saya akan membahas Ayat-ayat Cinta 2. Memang bukan buku baru terbit atau baru beli. Buku ini sudah lama nongkronh dirumah, hanya saja saya biarkan suami baca dulu, kalau sudah baru saya yang baca...

Dan... jempol empat ya...

Saya menikmati tidak hanya alur cerita yang unik, namun tiap paragraf dalam novel ini mengandung ilmu pengetahuan tentang Islam yang saya baru tahu, sehingga meskipun suami saya yang lebih dulu membacanya tidak sabar menceritakan alurnya pada saya, itu tidak mengurangi semangat saya untuk membaca paragraf per paragrafnya.

Kalau novel Ayat-Ayat Cinta 1 saya selesaikan dalam sekali duduk, mulai pukul 2 siang hingga 2 malam, istirahat sholat makan saja, karena waktu itu masih single, belum punya kesibukan lain, dan buku harus segera dikembalikan, maka novel yang kedua ini saya membacanya selama 3 hari di sela menemani anak-anak bermain dan saat mereka tidur pada malam hari.

Pada saat membaca novel yang pertama saya masih single, namun pada novel kedua saya sudah menikah. Maka penghayatannya pun menjadi berbeda. Kalau dulu hanya membayangkan, maka sekarang emosinya lebih merasuk.

Tentang alur, singkat saja, intinya dikisahkan Aisha hilang di Palestina, Fahri menikah lagi dengan sepupu Aisha, bernama Hulya.
Karena kejadian, Hulya meninggal dan dia berwasiat sebelum meninggal agar wajahnya ditransplantasikan pada pembantu mereka yang ternyata adalah Aisha. Koq bisa yaa? Makanya baca novelnya dongg!!!

Adapun nama- nama yang berperan dalam novel tersebut adalah Fahri, Paman Hulusi, Brenda, Ny. Catrina, Ny. Janet, Keira, Jason, Misbah, Sabina, Madam Verinka, Hulya, Baruch, Ozan, Claire, prof.charlote, Ju se, Heba, Shaikh Utsman, Suzane, dan tentu saja ada Aisha.

Pesan yang disampaikan melalui kedermawanan Fahri adalah dia sebagai umat Muslim di Edinburgh adalah umat minoritas yang pasti menjadi sorotan jika ada hal kecil saja. Maka jihadnya di jalan Allah diwujudkan dengan kepeduliannya kepada tetangganya meskipun mereka Non Islam, bahkan ada yang terang-terangan memusuhi Islam. Fahri tetap membantu. Bahkan saat harus mengeluarkan uang banyak dan meluangkan waktu disela-sela kesibukannya sebagai dosen. Dia tidak muluk muluk, hanya ingin menunjukkan bahwa ajaran Islam itu mulia. Rahmatan lil 'alamin.

Secara emosi... tidak mengecewakan, perasaan saya seperti diaduk-aduk, diremas-remas hingga perut terasa tegang. Masya Allah... hanya endingnya yang kalau ibarat senam, cooling downya kurang smooth... eh, tau-tau udah selesai aja... padahal masih dag dig dug hehehe....

sukses untuk author, nunggu karya berikutnya yaa...

Rabu, 28 September 2016

Panen Terong Bersama Fatih

Belakangan ini Fatih lengket ke Bu Karmi dan mengganggu pekerjaannya. Barangkali Fatih bosan. Maklum bunda juga masih trial eror nyarikan aktivitas apa yang seru untuk Mas Fatih. Niatnya agar setiap aktivitas itu ada tujuannya, tidak hanya untuk mengisi hari.

Akhirnya pilihan jatuh pada pekarangan di rumah. Yaitu karang kitri.

Sebagai 'orang kebun' kami wajib memiliki karang kitri. Saya memanfaatkan karang kitri sebagai sarana belajar untuk Fatih. Nah, kalau biasanya saya menyuruh Bu Karmi, yang biasa bantu-bantu di rumah untuk panen, alhamdulillah hari ini ada kesempatan untuk melakukan sendiri saat Sofia tidur. Saya pun mengajak Fatih untuk turut serta. Saya yang panen, Fatih yang memasukkan ke keranjang.

Alhamdulillah hasil panen Terong lumayan banyak. Ada tiga gulud yang ditanami terong, hasilnya kami dapat satu keranjang terong.
Selain itu kami juga panen koro. Sudah kelewat tua sih, tapi masih bisa diambil bijinya saja untuk diolah.

Semoga Fatih suka yaa...

Selasa, 27 September 2016

TEKNIK HE PRA Aqil Baligh 11-14 Tahun

_RESUME KULWAP GRUP HEbAT JABAR_
📆 23 September 2016
Admin   : bunda Rita
Host       : abah Fikri
Notulen : bunda Artri
Topik      : Materi Pokok 8
SME        : Ust. Adriano Rusfi

Materi: Septi Peni Wulandani

===================
Pada rentang usia pre-aqil baligh 8-14 tahun, orang tua memandu anak untuk "kaya akan gagasan", setelah kaya akan wawasan (0-7 tahun).

Orang tua menjadi teman bermain bagi anak, dan anak mulai bisa mempunyai peran dalam keluarga besar dan komunitas. Pada masa ini, anak boleh bergonta-ganti ide.

Pada masa usia pre-aqil baligh 8-14 tahun, adalah saat untuk menularkan value/nilai dan karakter, karena di usia 7 tahun merupakan masa pembentukan karakter.

Perlu dipahami, bahwa value/nilai keluarga dan karakter tidak bisa diajarkan, namun ditularkan melaui keteladanan.

Pada usia 8-14 tahun, umumnya anak sudah mulai tidak ego sentris.

Pada masa ini anak mulai melihat nilai-nilai sosial, etika-etika dasar dalam ajaran Islam. Pada usia sebelumnya (0-7 tahun) anak sudah mulai diperintahkan shalat.

Rentang usia pendidikan anak usia 8-14 tahun, terbagi pada 2 tahap :

➡Usia 8-10 tahun :

✅mengenal potensi diri,

✅magang/club untuk membuka wawasan sehingga melahirkan gagasan, dan

✅mulai menjalani ibadah syariah.

➡Usia 10-14 tahun :

✅belajar bersama Maestro,

✅magang project,

✅menghebatkan potensi diri, kemandirian, kepemimpinan dan sebagainya.

Anak-anak di jenjang usia 8-14 tahun mulai mengenal “MIMPI apa yang akan dia BANGUN”.

Ada beberapa tahapan yang ditempuh pada fase ini:

✳Pandu anak untuk memahami misi hidupnya dengan cara:

1. Mengajak anak untuk paham “Who am I?”

2. Mengajak anak untuk memahami alam sekitarnya/lingkungannya (kearifan lokal)

3. Mengajak anak untuk memahami zaman saat dia dibesarkan dan prediksi zaman saat anak ‘aqil baligh nanti.

4. Kuatkan aqidah anak akan keberadaan Allah swt.

✳Pandu anak untuk memahami potensi dan bakatnya.

Di bawah ini adalah tahapan yang sudah
dipraktekkan oleh Ibu Septi Peni Wulandani dan Pak Dodik Maryanto kepada anak-anak beliau, dengan tahapan sebagai berikut:

1. Memperbanyak aktifitas anak yang NON-Pelajaran, agar anak cepat menemukan potensi dirinya.

2. Memasukkan anak ke club Talent sesuai dengan potensi yang ditemukan dan diulang terus menerus.

3. Ajak anak menuangkan mimpinya dalam VISION BOARD

4. Memperkenalkan anak kepada beberapa learning model yang berkaitan dengan mimpi anak.

5. Memandu anak-anak untuk membuat Talent based Individual Project.

6. Menularkan Leadership dengan benar.

====================

_Tanya Jawab_

*Keseimbangan fitrah bakat dan fitrah lainnya*
1⃣Bunda Cahya - Bekasi

Ustadz, Naura sulung saya (10 th) Alhamdulillah fitrah bakatnya sudah nampak. Ia suka sekali menggambar dan menulis. Seperti yang pernah sy dengar,  jika semakin diberi beban dan semakin suka, semakin optimis, maka itu bakat.

Nah, Naura pun begitu cuma jadi memakan waktu hingga tugas2nya di rumah jadi terlewat (seringnya jadi nawar, izin tidak mengerjakan) ini bagaimana ya sebaiknya?

Untuk SMPnya, abinya memang berat untuk melepas di pesantren, apalagi kemudian ketika saya melihat ulasan ustz Harry si grup Hebat bahwa sebaiknya anak usia di bawah 15 th masih delidampingi orang tuanya, bulatlah tekad kami untuk tidak mengirim ke pesantren.

Anaknya sendiri sih inginnya HS, tapi sayanya kok merasa belum sanggup ya ustad. Jika misal HS lalu juga diberikan kursus menggambar dan menulis apa itu baik pak? Atau mungkin ada gambaran bagaimana baiknya? Karena jika mengirim ke maestro kok ya sepertinya masih berat (dan belum terbayang bagaimana kegiatannya nanti). Juga ada kekhawatiran jadi bosan di rumah, lalu bagaimana dengan kebutuhannya untuk bergaul dengan teman2nya? (Jika sekolah kan akan bertemu banyak teman..
Mohon pencerahan dari ustz, terima kasih.

1⃣ Bunda Cahya, di Bekasi
Concern pada bakat bukan berarti kita mengabaikan yang lain. Bahkan, sesekali dalam Islam kita diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan fitrah kita, misalnya berperang. Allah memerintahkan manusia berperang, padahal fitrah manusia membenci peperangan.

Oleh karenanya, dalam pengembangan fitrah bakat anak-anak kita, jangan juga kita terlalu mendewa-dewakan fitrah tersebut. Dalam beberapa hal malah bakat itu harus disimpan, disembunyikan dan diinkubasi beberapa waktu, agar kelak bakat tersebut tampil secara optimal pada waktunya. Ada orang-orang yang jenuh dengan bakatnya sendiri, karena pada rentang waktu tertentu terlalu diumbar.

Maka, sampaikanlah pada anak bahwa ada hal-hal yang tak kalah pentingnya daripada bakat, seperti amanat, ibadat, tanggung jawab, kepedulian kemanusiaan dsb. Katakan padanya bahwa kita tak mungkin cuek terhadap bencana di Garut, hanya gara-gara “tak berbakat menolong orang”. Katakan padanya bahwa bakat itu perlu diaktualisasikan sedikit-sedikit. Kita bahkan perlu menyembunyikan bakat, agar rindu pada bakat itu sendiri. Katakan pula padanya bahwa ia sebenarnya punya bakat-bakat lain yang perlu dikembangkan, karena bakat manusia tak hanya satu.

Tentang Homeschooling dan Home Education, tujuan utamanya sebenarnya adalah membangun karakter dan kedewasaan. Dan tak ada tempat yang lebih baik dalam membangun karakter dan kedewasaan daripada rumah dan komunitas tempat tinggalnya sendiri. Jadi, sampai usia 13-15 tahun fokuskanlah untuk pembangunan kedewasaan itu. Pada usia ini bakat perlu ditumbuhkan. Sedangkan pengembangan dan pengayaan bakat baru dilakukan setelah kedewasaan tercapai.

Tentang kebutuhan untuk berteman dan bersosialisasi, itu kan bisa dibangun di mana saja, tak harus di sekolah. Dia bisa mengerjakan proyek-proyek tertentu bersama saudara-saudaranya atau teman-temannya di komunitas. Sosialisasi dan kebersamaan juga bisa dibangun di komunitas-komunitas kursus, belajar bersama kepada mastro tertentu. Atau, dia juga bisa dimasukkan ke SMP dekat rumah yang beban akademiknya tak terlalu besar.
✅

*Perkembangan emosi anak umur 11 tahun*
2⃣ Bunda Tari, Purbalingga

Assalamualaikum mau tanya ustadz,
Anak sy laki2 11th Blm bisa mengelola emosi, gampang marah, ngambek, terutama bila ada anak yg meledek
Sentimentil sekali,
Untuk sholat kadang msh hrs disuruh tp kadang sdh mandiri
Itu dulu bun, matur nuwun

2⃣ Bunda Tari di Purbalingga
Jika anak itu berusia 11 tahun masih memiliki emosi seperti itu, berarti perkembangan emosionalnya cukup terlambat. Ada beberapa kemungkinan : ekspresi emosi di masa lalu terlalu ditahan atau terlalu diumbar, pertumbuhan nuraninya kurang berkembang, gaya ekspresi emosi dalam keluarga cenderung meletup, ada frustrasi-frustasi dalam dirinya terhadap “orang kuat” (orangtua, kakak, guru dsb) sehingga membalasnya ke “orang lemah” (teman, adik, orang miskin dsb.)

Anak-anak dengan emosi yang mudah tersulut berarti punya potensi untuk memiliki kecerdasan emosional kelak. Untuk itu, ia harus dididik : apa jenis emosi yang harus dikeluarkan, seberapa kadar emosi yang tepat, kapan dikeluarkan, kepada siapa diekspresikan, dan di mana seharusnya emosi tersebut di luapkan ?

Anak-anak tipe emosional adalah anak-anak yang harus dididik untuk merasakan “apa akibat luapan emosi itu bagi dirinya sendiri”. Dia harus merasakan akibat dari kemarahannya, murkanya, ngambeknya dsb. Pada dasarnya, mendidik anak-anak yang emosional bukanlah dengan cara mengalah, tapi “membalas” dengan emosi yang setara, namun disadari dan terkontrol. Biarlah anak belajar dari emosinya sendiri.

Emosi yang tak terkendali juga disebabkan karena dia mampu meraih apapun yang dia inginkan lewat emosi. Anak akan mengendalikan emosinya jika ternyata luapan emosi tersebut justru tak menghasilkan apa-apa yang dia harapkan, bahkan sebaliknya. Jadi, jangan pernah menuangkan “bensin” ke emosi anak dengan cara memenuhi keinginan emosionalnya. Kalau anak ibu marah jika diledek, katakan padanya “Orang akan makin hobby meledekmu, jika kamu emosi setiap diledek”.
 ✅

*Menggali potensi anak*
3⃣. Tina, Jabar Raya

Ustadz bagaimana jika anaknya ga mau ngapa-ngapain? Khususnya kalo diminta belajar pelajaran sekolah bahkan ibadah.


Padahal sy tidak menuntut nilai yg bagus di rapot, cukup anak sy mau belajar.
Sy sudah ikhtiar dg mengikutkan ke berbagai eskul yg ada di sekolah (robotik, futsal, les pelajaran dll) tp tetep anaknya ga mau ngapa-ngapain. Malah diem dan nangis kalo sy nasehatin teh.

Bagaimana yah untuk membangkitkan keinginan belajar anak sy? Di rumah dia seneng banget ngasuh anak2 yg usianya dibawah dia dan kata gurunya dia paling seneng kalo ngatur2 aktifitas dlm berkelompok (bukan pengetahuan, ngatur2 doang)

Ayahnya di luar kota dan pulang sebulan sekali.

3⃣ Bunda Tina dari tasikmalaya,
Berarti ananda bukannya nggak mau ngapa-ngapain. Buktinya dia senang banget mengasuh anak-anak yang lebih muda, atau mengatur aktivitas dalam kelompok. Mungkin dia tipe leader, dan nggak suka jadi follower. Feeling saya bilang, dia punya masalah dengan sekolah : dengan guru tertentu, dengan pelajaran sekolah, dengan peraturan sekolah, dengan budaya sekolah dsb. Kalau sumber masalahnya adalah sekolah, maka ekskulpun pasti dia nggak mau. Bahkan boleh jadi melihat pagar sekolahpun dia sudah trauma. Coba dicari penyebabnya : tanyakan dari hati ke hati dengannya, tanyakan pada teman-temannya, konsultasikan dengan gurunya.

Lalu, mari ibu gali potensi anak ibu. Boleh jadi potensinya di social skill (pergaulan) , tapi orangtua tetap saja mengarahkannya ke academic skill (pelajaran). Akhirnya dia frustrasi dan nggak mau ngapa-ngapain. Saya sering bertemu anak semacam ini : Punya bakat sosial yang dahsyat, tapi nggak becus matematika (misalnya), dan orangtuanya (atau gurunya) tak puas dengannya. Percayalah Bunda, anak semacam ini tak cakap akademik, tapi kelak mampu memimpin seribu akademisi. Tentang ayahnya yang pulang sebulan sekali, boleh jadi berpengaruh terhadap motivasi nya ✅

*Menumbuhkan dan menemukan minat anak*
4⃣ Ari-Banyumas

Ustadz, sepupu saya usia nya 12 tahun. Tapi sampai sekarang belum bisa menemukan minatnya. Masih ikut ikutan dengan temannya. Cuman main hp kerjanya.  Kalau ditanya juga masih bingung.
Mungkin akibat dulu waktu kecil sering dilarang larang oleh mbahnya.
Apa yang harus dilakukan untuk agar anak ini menemukan minatnya.

4⃣ Mas/Bunda Ari di Banyumas,
Sering dilarang-larang jelas sangat berpengaruh terhadap motivasi dan minat anak. Karena, cara termudah untuk menghindari larangan adalah : jangan ngapa-ngapain ! Dan seorang Mbah atau siapapun yang berusia di atas 50 tahun, kecenderungannya memang melarang-larang. Manusia manapun juka telah menginjak usia 50 tahun, konservativismenya otomatis meningkat. Makanya saya sering berkata : jangan suka menitip anak pada Mbahnya. Mbah adalah tempat berlibur anak.

Untuk itu, ajak anak tersebut ke alam bersama teman-temannya. Manfaatkan waktu libur untuk melakukan aktivitas di alam terbuka. Biarkan dia dan teman-temannya memilih dan mengorganisir aktivitas tersebut. Amati dan observasi peran yang ia mainkan di kepanitiaan tersebut, analisis pilihan aktivitas yang ia putuskan, dan tanya kenapa ia memutuskan aktivitas tersebut. Amati dan observasi juga aktivitas dan kegembiraannya selama liburan di alam bebas. Biarkan ia mengambil banyak inisiatif, setelah sekian lama dilarang-larang.

Kalau nggak ketemu juga bidang minatnya, di bisa saja diikutkan ke program assessment (tes) bakat-minat. Tes bakat minat yang baik dan valid adalah jika melibatkan : tes orientasi inteligensi, tes orientasi kepribadian, tes hasrat-kebutuhan, dan tes minat. Ikut-ikutan teman juga dapat dianalisis : teman seperti apa yang ia suka ikuti, apa minat teman-teman yang ia ikuti tersebut. Boleh jadi ia memang seorang yang bertipe follower, atau punya masalah kepercayaan diri.
✅

*Menumbuhkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak*
5⃣ Bunda retno - Semarang
Bagaimana menumbuhkan tanggungjawab dan kemandirian pd anak yg dominan di otak kanan. Usia 10th

5⃣ Bunda Retno dari Semarang,
Anak dengan dominasi otak kanan pada dasarnya nggak ada masalah dengan tanggung jawab dan kemandirian, selama selisih antara otak kanan dan otak kiri tak terlalu lebar. Tapi jika selisihnya lebih dari dua Standard Deviasi, maka dia akan mengalami kesulitan untuk mandiri dan bertanggung jawab. Karena kemandirian dan tanggung jawab sangat dipengaruhi oleh kekuatan otak kiri. Makanya, jangan sampai anak yang dominan otak kanan lalu diasah otak kanan melulu, sehingga pengembangan otak kiri terabaikan. Akhirnya tumbuhlah anak-anak yang cenderung semaunya sendiri. Jadi, konsep strength-based education perlu dipahami proporsional.

Untuk itu, anak yang tunbuh seperti ini berikanlah kepadanya hal-hal yang justru agak berbau otak kiri, seperti peraturan, tugas, target kerja, konsekuensi, beban tanggung jawab, SOP dan sebagainya. Cuma, untuk anak dengan tipe otak kanan harus diseimbangkan antara peraturan dengan kebijaksanaan, tanggung jawab dengan kebebasan, SOP dengan inovasi dsb. Untuk anak tipe otak kanan, dia harus diarahkan melalui proyek-proyek yang melibatkan 3 hal : prosesnya bagaimana, hasilnya apa dan kapan, manfaatnya seperti apa...
✅

*Fitrah perkembangan pre aqil baligh*
6⃣Rita, Jabar Raya
Ustadz, putri kami ada yg sdh berusia 13 & 11 tahun, tapi masih senang permainan yg menurut saya harusnya sudah lewat untuk usianya.  Seperti  tak malu hujan"an, main rumah-rumahan bersama adiknya yg usia 9&6 th. Bahkan pernah yang usia 13 th seret mobil"an adiknya di jalan depan rumah saya liat adiknya ga ada. Tapi sudah senang bersolek sih. Pekerjaan rumah juga sudah biasa, minat dan bakat sdh terungkap dan terlihat.
Pertanyaan nya:
 Masih wajarkah permainan demikian  diusia seperti itu ?

6⃣ Bunda Rita dari Banjar,
Untuk anak seusianya pada masa sekarang, hal semacam itu masih cukup wajar. Pada dasarnya setiuap manusia senang bermain dan menikmati masa kanak-kanak. Saya rasa sayapun sampai sekarang masih suka menikmati permainan anak-anak masa lalu hehehe... Saya pernah beberapa kali main congklak dengan anak-anak. Bahkan saya yang meminta.

Apalagi jika digambarkan bahwa ciri “keremajaannya” juga sudah tampak. Berarti sebenarnya tak terlalu masalah. Masalah baru mulai muncul jika perilaku kekanakan tersebut ternyata masih muncul dengan kuat di atas usia 15 tahun.

Untuk itu, pendidikan aqil-baligh perlu diperkuat ✅

===============
Sumber : Grup HEbAT Malang